Jumat, 01 Juni 2018

Antara Langit dan Udara Part 1


Meskipun pesanku dibales dua abad kemudian, entah kenapa rasa capek nggak pernah datang buat ikutan nunggu, tetep aja ngerasa seneng tiap nama Matahari muncul di notifikasi HP.

"Km uda mkn?" tanyaku, delapan jam kemudian dia balas "Udah lah."
"Udh apa?" kataku, dengan nada emosi yang hanya bisa di dengar aku sendiri.
Kemudian dia bales lagi "Km tny apa?"
"Iya paham" ketusku.
"Lola hahahaha"
Buat bisa terus chattingan sama dia, dia ngatain aku LOLA. Udah di kata-katain masih aja diketawain pake nada bangga.
"Itu cuma basa basi! biar aku bisa terus-terusan chat sama kamu! paham?" kataku.

***

Matahari sebenernya bukan namanya yg asli, aku sengaja menganti namanya dengan alasan aku ingin terbiasa dengan segala hal tanpanya. Jadi, nama Matahari itu aku dapetin dari sebuah kisah yang pernah aku denger.

"Kamu pernah denger cerita tentang kisah embun, dan matahari?" kata sepupuku. Kemudian aku menggeleng.

Entah kapan terjadinya, pada suatu ketika Matahari pernah merasa kesepian ia tidak pernah menemukan sesuatu yang benar-benar bisa membuat hatinya tenang. Setiap hari dilaluinya tanpa kisah yang berarti. Sudah berabad-abad tak ada yang bisa menarik perhatiannya dan bahkan dia merasa bosan dengan rutinitasnya tanpa pernah menemukan alasan yang membuatnya semangat untuk menunda sebuah hari.
Ketika Matahari tidur, embun datang. Setiap malam embun selalu datang untuk membuat tulang sepucuk daun yang kering menjadi basah.
Pada suatu hari Matahari melihat sesuatu yang tidak biasa, di tanah yang gersang tumbuhlah sebuah pohon yang cukup tinggi hanya dengan satu lembar daun yang tersisa. Matahari heran, bagaimana bisa di tanah gersang seperti itu sang daun masih bisa bertahan hidup. Pagi, siang, sore Matahari terus memperhatikan daun itu dengan rasa penasaran hingga senja hanya setitik di ujung garis pantai maghrib itu.
Ketika matahari tertidur pulas, embun datang, ia membasahi daun dengan dirinya sambil bercerita dan memberikan semangat untuk daun agar terus bertahan hidup. Begitu bahagianya mereka tertawa seperti dua anak kecil yang baru saja bertemu dan daunpun menjadi lebih hijau saat bersama embun.
Matahari mengintip di sela-sela subuh, ia menemukan jawaban dari rasa penasarannya selama ini. Sang embun lah alasan mengapa sang daun tetap ada. Semakin hari, Matahari selalu mengawasi embun dan daun. Hingga suatu saat rasa penasaran itu tergantikan dengan rasa indah yang lain. Matahari jatuh cinta dengan Embun.
Daun pun tidak bisa apa-apa ketika ia tahu jika Matahari ingin memiliki Embun. Karena bagaimanapun, Daun telah berhutang budi dengan Matahari karenanya Daun bisa berfotosintesis dan terus melanjutkan hidup. Lagi pula, Daun juga tidak pernah mengatakan apa yang di rasanya selama ini kepada embun dan Mataharipun tidak tahu bagaimana perasaan sekuncup daun itu. Daun tak ingin membuat Matahari kecewa karena Daun takut alam semesta menjadi gelap karenanya.
Kemudian daun memberi ruang untuk Matahari. Daun ingat, pada suatu hari Embun pernah bercerita kepada Daun tentang Matahari. Aku pernah menemukan titik cahaya terang dari mata Embun ketika kita bercerita dan dia bertanya kepadaku tentang keberadaan Matahari. Dia bahagia ketika pagi tiba. Sebelum sang fajar berganti menjadi terik di siang hari, Embun pernah berkata "Ada satu alasan yang bikin aku benci dengan Matahari, namun sayangnya aku punya seribu alasan untuk setiap hari merindukan kehangatannya"

Beberapa hari setelah itu, Matahari mendekati Embun, ia ingin memiliki lebih nyata. Sayangnya, ia tak bisa.

Satu alasan yang pernah embun katakan pada Daun tentang apa yang ia benci tentang Matahari adalah karena setiap Matahari menyapa, embun selalu hilang diantara langit dan menjadi udara.
Sampai sekarangpun, tidak akan pernah bisa Matahari dekat dengan Embun. Sejengkal lebih dekat, artinya semakin embun hilang lenyap menguap.


*BERSAMBUNG*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar